Minggu, 19 November 2017

Kitab Suci Tripitaka

Setiap agama yang ada di dunia ini mempunyai sebuah Kitab Suci. Kitab Suci adalah gabungan dari dua kata yaitu Kitab dan Suci. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Kitab memiliki arti sebuah buku, sedangkan kata Suci memiliki arti ( bersih, dalam arti keagamaan yaitu bebas dari dosa, bebas dari noda, bebas dari kesalahan ). Di dalamnya berisi Wahyu Tuhan yang di bukukan. yang memuat ajaran-ajaran tentang seluruh aspek kehidupan bagi seluruh umat beragama.

Pertama-tama, mari kita bahas mengenai kitab suci masing-masing agama yang diakui secara resmi di Indonesia. Kitab suci masing-masing agama adalah sebagai berikut:
- Al-Quran untuk Agama Islam (yang terdiri dari 114 Surah/bab, 30 Juz, 6236 ayat, dan berbahasa Arab)
- Al-Kitab untuk Agama Kristen (terdapat Deuterokanonika dan disebut sebagai Kitab Suci Katolik khusus untuk yang Katolik & Ortodoks, dan untuk yang Protestan, tidak terdapat Deuterokanonika)
- Weda/Catur Weda untuk Agama Hindu (terdiri dari Rgweda, Yajurweda, Samaweda, dan Atharvaweda)
- Tripitaka untuk Agama Buddha
- Untuk Agama Kong Hu Cu, ada:
     - Si Shu / 四书 (Empat Kitab):
          - Da Xue / 大学 (Kitab Ajaran Besar)
          - Lun Yu / 论语 (Kitab Sabda Suci)
          - Meng Zi / 孟子 (Kitab Meng Zi)
          - Zhong Yong / 中庸 (Kitab Tengah Sempurna)
     - Wu Jing / 五经 (Untaian Lima Sutra):
          - Shi Jing / 诗经 (Kitab Sanjak)
          - Shu Jing / 书经 (Kitab Hikayat)
          - Yi Jing / 易经 (Kitab Perubahan)
          - Li Jing / 礼经 (Kitab Kesusilaan)
          - Chun Qiu Jing / 春秋经 (Kitab Chun Qiu)

Sekarang, kita akan membahas mengenai Kitab Suci Agama Buddha, yaitu Kitab Suci Tripitaka.
Penamaan Kitab Suci Tripitakas bervariasi dalam penamaannya dari berbagai bahasa, seperti bahasa Thailand, Jepang, Mandarin, dan lain-lainnya. Nama yang digunakan secara umum berasal dari Bahasa Pali (yaitu Tipiṭaka) dan Bahasa Sanskerta/Sanskrit (yaitu त्रिपिटक; Tripiṭaka). Walaupun beda bahasa penamaannya, maknanya tetap sama, yaitu Tiga Keranjang.

Seperti namanya, Kitab Suci Tripitaka ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu sebagai berikut:
 - Sutra Pitaka - Terdiri dari lebih dari 10.000 sutra/ajaran yang berisikan khotba-khotbah, dialog, dan tanya jawab Buddha Gautama dengan para siswa, pertapa maupun orang lain.
Sutra Pitaka dibagi lagi menjadi 5 bagian, yang sebagai berikut:
     - Digha Nikaya - Kumpulan diskusi-diskusi panjang (terdapat 34 kumpulan)
     - Majjhima Nikaya - Khotbah-khotbah menengah atau yang memiliki panjang sedang (terdapat 152 sutra, dan tiap 10 sutra itu mendirikan sebuah vagga/bab, namun vagga terakhir terdiri dari 12 sutra)
     - Samyutta Nikaya - Terdiri atas 7.762 sutra dan dibagi lagi menjadi 5 Vagga Utama dan 56 bagian yang disebut sebagai samyutta. 5 Vagga Utama itu adalah sebagai berikut:
  • Sagāthā Vagga - Buku Syair-Syair
  • Nidāna Vagga - Buku Tentang Asal Mula
  • Khandha Vagga - Buku Tentang Kelompok-Kelompok Unsur Kehidupan
  • Saḷāyatana Vagga - Buku Tentang Enam Landasan Indria
  • Mahā Vagga - Buku Besar
     - Anguttara Nikaya - Terdiri dari 11 kelompok, dan juga beberapa ribu sutra yang disusun dalam 11 nipata/buku.
     - Khuddaka Nikaya - Secara umum terbagi menjadi 15 bagian (Khusus untuk Myanmar, terdapat 18 bagian)
 - Vinaya Pitaka - Terdiri dari aturan-aturan yang patut dilaksanakan untuk para bhikkhu-bhikkhuni (Untuk Theravada terdapat 227 peraturan untuk bhikkhu dan 311 peraturan untuk bhikkhuni, sedangkan untuk Mahayana terdapat 250 peraturan untuk biksu dan 348 peraturan untuk biksuni)
 - Abhidhamma Pitaka - Berisi metafisika dan filosofi Agama Buddha. Karya Abhidhamma tidak mengandung risalah filosofis sistematik, namun berisi ringkasan atau daftar abstrak dan sistematis.

Setelah pembagian dalam Kitab Suci Tripitaka, sekarang akan dijelaskan sejarahnya secara singkat.
Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata : "Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi" (Vinaya Pitaka II,284). Maha Kassapa Thera setelah mendengar kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.

Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, 500 orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali khotbah-khotbah Sang Buddha dan Yang Ariya Upali mengulang Vinaya (peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci Tipitaka ([Pali). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali) disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran sebagaimana sabda Sang Buddha yang terakhir: "Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu".

Pada mulanya Tipitaka (Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma - Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma - Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravãda. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar Theravãda dan Mahayana.

Pesamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah Sang Buddha wafat (249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkan Dhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan (penyelundup ajaran gelap) masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain.
Dalam Pesamuan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Dari titik tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.

Pesamuan Agung keempat diadakan di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka (Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah agar semua orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya.

Selanjutnya Pesamuan Agung Kelima diadakan di Mandalay (Burma) pada permulaan abad 25 sesudah Sang Buddha wafat (1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting pada waktu itu adalah Kitab Suci Titpitaka (Pali) diprasastikan pada 727 buah lempengan marmer (batu pualam) dan diletakkan di bukit Mandalay.

Persamuan Agung keenam diadakan di Rangoon pada hari Visakha Puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500 (tahun Masehi 1956). Sejak saat itu penterjemahan Kitab Suci Tipitaka (Pali) dilakukan ke dalam beberapa bahasa Barat.

Sebagai tambahan pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravãda. Bertitik tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab Mahayana berkembang di India dan kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa Sanskerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali).

Dengan demikian, Agama Buddha mazhab Theravãda dalam pertumbuhannya sejak pertama sampai sekarang, termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan pembabaran Dhamma - Vinaya pada kemurnian Kitab suci tipitaka (Pali) sehingga dengan demikian tidak ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravãda di Indonesia dengan Theravada di Thailand, Srilanka, Burma maupun di negara-negara lain.

Sampai abad ketiga setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah menjadi 18 sub mazhab, antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka, Theravãda dan sebagainya. Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah lenyap. Yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravãda (ajaran para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravada tidak ada lagi. Mazhab Theravãda inilah yang kini dianut oleh negara-negara Srilanka, Burma, Thailand, dan kemudian berkembang di Indonesia dan negara-negara lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3 Pembagian Tripitaka

Kita sebagai umat buddha, yang paling umum harus kita ketahui adalah kitab suci agama buddha, Ajaran-ajaran/khotbah-khotbah Sang Buddha semu...